Monday, November 17, 2008

Kota-Kotaku

Ikutan Anne yang terinspirasi ama Ceu Dewi, gue juga pingin cerita-cerita dikit soal pengalaman pindah-pindah kota. Ngga banyak sih, cuma 3 kota aja kok. Hehehehe...

Ambon (1980 - 1982)













Gue lahir di
Ambon dan tinggal disana sampai umur 2 tahun. Memang ngga banyak kenangan yang bisa gue ingat karena waktu itu gue masih terlalu kecil, tapi efeknya terasa sampai sekarang. :D

  • Setiap kali ada orang yang tahu kalau gue lahir di Ambon, kesimpulan pertama yang mereka ambil adalah "elo orang Ambon dong?" dan gue sampai detik ini ngga mengerti kenapa musti kesimpulan itu yang diambil. Emang ngga bisa ya orang non-Ambon lahir di Ambon? Gue jelaskanlah bahwa gue bukan orang Ambon, cuma numpang lahir aja di Ambon.

  • Setelah tahu kalau gue ternyata bukan orang Ambon, pertanyaan kedua yang muncul adalah "kok elo bisa lahir di Ambon sih? ngapain loe disana?" Nah...pertanyaan-pertanyaan kaya gini nih yang kadang bikin gue pingin garuk-garuk kepala walaupun ngga gatal. Yah...berhubung orang tua gue adalah pegawai BUMN yang siap ditempatkan dimana saja di seluruh Indonesia, ya wajar kan kalau gue bisa lahir di Ambon.

Anyway, itulah efek-efek yang tetap terasa sampai sekarang dari kota kelahiran gue itu. Hihihi... Sejak pindah tahun 1982, gue belum pernah lagi kesana. Kadang suka kangen juga. :D


Jayapura (1982 - 1987)













Umur 2 tahun gue pindah ke Jayapura, masih di bagian timur Indonesia, dan tinggal disana sampai gue kelas 1 SD caturwulan 2. (masih inget! :D) Gue punya masa kecil yang bahagia di Jayapura. :) Banyak hal-hal yang bisa gue lakukan di Jayapura yang tidak bisa dilakukan anak-anak yang besar di Jakarta. Bahkan gue merasa gue terlalu cepat pindah dari Jayapura. I loved it there!

  • Rumah gue letaknya di dekat pantai dan dari jendela ruang tamu kelihatan hamparan laut yang luas. Dulu gue ama nyokap dan adik gue suka bangun subuh-subuh untuk melihat matahari terbit dari jendela. Indaaaah banget! Di Jakarta apalagi dari rumah gue sekarang ngga akan mungkin bisa melihat matahari terbit.

  • TK gue dulu dekat rumah dan bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Ibu guru TK gue waktu itu suka mengajak satu kelas jalan-jalan bergandengan tangan dua-dua ke pantai lalu main-main disana.

  • Gue tinggal di kompleks perumahan khusus untuk pegawai PLN dan di sekeliling kompleks gue tinggal penduduk asli Irian yang item-item dan keriting itu. Hihihi... Tapi mereka baik dan ramah banget lho. Ada satu anak penduduk asli yang jadi teman baik gue dan adik-adik gue, namanya Becken (singkatan dari Beckenbauer, pemain sepakbola terkenal dari Jerman yang jadi idola bapaknya :P :D). Gimana kabarnya sekarang ya?

  • Rumah gue (dan semua rumah di kompleks) ngga ada pagarnya jadi halaman buat anak-anak bermain itu luas banget. Ada banyak pohon yang tumbuh disana. Pohon yang paling gue inget adalah pohon kayu putih yang kulit kayunya suka gue ambil dan gue remas-remas (baunya wangi seperti minyak kayu putih), pohon jambu mete yang dahannya rendah jadi gue dan adik-adik gue suka manjat pohon ini sampai ke puncaknya (sekali waktu gue malah sampai naik ke atas atap rumah yang bikin nyokap teriak-teriak panik nyuruh gue turun, hahaha...), dan pohon pete cina yang kalau lagi berbuah gue suka banget metikin dan makan buahnya. Sedaap.. :P

  • Kalau pohon jambu mete-nya lagi berbuah, bijinya gue lepas dari buahnya terus gue 'masak' dengan cara dibakar di di batu-batu dengan daun kering. Kalau kulitnya udah hitam gosong, itu artinya udah matang. Kulitnya tinggal dibuang dengan cara dipukul-pukul pakai batu sampai pecah dan... nyam nyam!

  • Pertama kali ngeliat bangunan bertingkat disini. Waktu itu ada supermarket bertingkat dua yang baru buka di tengah kota, dan gue dengan noraknya senang banget bolak-balik naik turun tangga.

  • Pernah liburan ke Wamena yang dingin banget dan penduduknya sebagian besar masih berpakaian tradisional (pakai koteka bagi para pria dan bertelanjang dada bagi para wanita). Diajak masuk ke gua-gua, naik turun bukit dengan jalan kaki, ngeliat mumi ala orang Irian (tapi waktu itu gue ngga takut lho..), makan makanan yang dimasak di tungku batu di sebuah acara adat Irian (mereka ramah banget mau menerima kita yang orang luar dan aroma makanannya bener-bener bikin selera!), dan mandi di mata air gunung yang masih bersih dan dingin banget tentunya.

  • Pernah melihat tanah Papua Nugini dari atas bukit. Gue lupa nama bukitnya, tapi ada tuh namanya.

  • Berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, menggunakan kata "saya-kamu".

  • Kota Ambon dan Jayapura adalah kota pelabuhan, jadi disana ikan itu murah dan lagi segar karena langsung dari laut. Sedangkan ayam dan daging mahal harganya. Itulah sebabnya sampai sekarang gue sekeluarga makan ikan setiap hari. Iya, setiap hari.

Jakarta (1987 - sekarang)












  • Waktu pindah ke Jakarta orang tua gue belum punya rumah disini, jadilah gue tinggal di hotel selama 2 bulan. Waktu itu gue tinggal di Hotel Interhouse (sekarang Hotel Melawai dan kalau lewat Jalan Melawai Raya hotel ini masih ada).

  • Orang tua gue kemudian menyewa rumah di Radio Dalam dan gue bertetangga dengan keluarga Betawi asli lengkap dengan logatnya yang medok.

  • Gue yang terbiasa berbahasa Indonesia yang baik dan benar ketemu dengan orang Betawi asli jadi sering ngga nyambung. Gue bahkan ngga ngerti artinya "aku". Akhirnya gue datang ke nyokap dan nanya "ma, aku itu artinya apa?". Nyokap gue jawab, "aku itu artinya sama dengan saya." Oh, artinya itu toh. Waktu tetangga gue itu mengajak sesuatu "bareng-bareng", gue bingung. Ini kata apa lagi? Setelah nanya barulah gue tahu kalau "bareng-bareng" itu artinya "bersama-sama". :D

  • Pertama kali masuk sekolah di Jakarta, gue sempat gelagapan karena di Jakarta semuanya serba cepat. Belajar cepat, menulis cepat, berbicara cepat. Gue sempat ngga bisa mengikuti pelajaran dan ketinggalan. Tapi karena pada dasarnya gue anak yang cerdas (halah..) dalam waktu singkat gue berhasil mengejar ketinggalan dan akhirnya malah sering duluan. :P

  • Waktu ngeliat ijazah lulus SD gue baru tahu kalau ternyata nama gue yang benar adalah Juli dengan "J" dan bukan Yuli dengan "Y". Ya ampun!

  • Tahun 1993 gue pindah ke Ulujami (suatu daerah di Jakarta Selatan di tengah-tengah Cipulir, Petukangan, Tanah Kusir, dan Bintaro Jaya) yang merupakan daerah banjir. Dulu tiap tahun rumah gue pasti kebanjiran, sekarang cukup 5 tahun sekali. Tapi banjir yang 5 tahun sekali ini tingginya mencapai 2 m di dalam rumah.

  • SD - SMP di Blok M (gue sampai hapal seluk-beluk Blok M), SMU di Bukit Duri (akhirnya keluar juga dari Blok M! :D), dan kuliah di Depok (masih dihitung Jakarta kalau buat gue).

  • Lulus kuliah sempat kerja jadi barista di Starbucks Coffee selama 2 bulan, lalu pindah ke tempat kerja sekarang di sebuah bank swasta nasional di bilangan Sudirman. Jurusan ilmu waktu kuliah ama kerjaan sekarang sama sekali ngga ada sangkut-pautnya, tapi gue berusaha menikmati dan bersyukur aja bisa punya pekerjaan yang baik. (baca : gaji cukup dan bebas ber-internet-ria)
Gue rasa perjalanan hidup gue di 3 kota ini cukup berwarna. Dan jujur aja gue suka tinggal di Jakarta dengan segala macet, banjir, dan polusinya. :D

No comments: