Alkisah, hiduplah seorang karyawati bank swasta yang berkantor di bilangan Bunderan Senayan di gedung yang di lantai dasarnya ada resto mahal Tony Roma's. Karyawati bank ini bekerja sebagai Market Risk Officer di bank swasta tersebut dan selanjutnya dalam kisah ini akan disebut sebagai "MR Officer".
Setiap pulang kantor, MR Officer pasti akan menjalani rute pulangnya yang biasa yaitu naik kendaraan umum Koantas Bima warna kuning nomor 102 jurusan Tanah Abang - Ciputat. Biasanya sih tidak ada kejadian istimewa dalam perjalanan pulang si MR Officer. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang.....ngga luar biasa sih, tapi ngga biasa aja. :)
Begini kisahnya.
Hari itu cuaca cerah dan MR Officer agak tergesa pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 6 sore lewat 15 menit, badan terasa cape setelah bekerja keras seharian, dan perutnya juga sudah minta segera diisi. Untunglah 102 yang dinanti cepat datangnya dan kosong pula sehingga MR Officer bisa duduk dengan tenang sambil beristirahat. Di tengah perjalanan naiklah seorang Bapak yang tidak begitu tinggi dan agak gemuk dengan rambut ikal yang menjajakan sebuah buku berjudul "Buku Pintar Berprestasi".Begitu si Bapak mulai berbicara mempromosikan bukunya, MR Officer seketika merasa ada sesuatu yang berbeda dengan Bapak ini. Si Bapak terlihat........bahagia. Sambil berbicara beliau tersenyum, senyumnya tulus dan di wajahnya ada kebahagiaan.
(Catatan dari penulis : kalo ada orang yang tersenyum ama elo, tentunya elo bisa ngebedain mana senyum yang tulus dan mana senyum yang dibuat-buat kan? pasti elo bisalah ngerasain bedanya.)
Sangatlah jarang bagi MR Officer untuk bertemu dengan seseorang yang terlihat tulus dan bahagia menjalankan pekerjaannya, padahal si Bapak hanyalah berjualan sebuah buku tipis seharga 3000 perak saja. Tetapi dia bisa terlihat begitu bahagia dan tulus, dan semua itu jelas terpancar di wajahnya.
MR Officer sangat tersentuh dengan si Bapak dan ketulusannya, sehingga ia memutuskan untuk membeli satu buku tersebut. Apalagi setelah dilihat-lihat bukunya berisi berbagai informasi berguna, mulai dari "Rumus-Rumus Bangun Datar" (coba, masih pada inget ngga rumus luas trapesium?) sampai "Penemuan Paling Berjasa Bagi Peradaban Dunia" (ada yang tahu siapa pencipta sianida?). Canggih ngga tuh? Canggih kan? Hehehehe...

Di dalam dompet MR Officer ternyata hanya ada 1 lembar uang berwarna biru tanpa ada uang kecil sama sekali, tetapi tetap dibelinya buku itu walaupun sudah merasa si Bapak tidak akan punya uang kembalian yang cukup. Dugaannya benar. Dengan kecewa dia tidak jadi membeli dan si Bapak pun berlalu.
Ternyata eh ternyata, tidak berapa lama si Bapak kembali ke tempat MR Officer duduk dan sambil tersenyum berseri-seri menyerahkan 1 buku jualannya ke MR Officer.
Katanya, "Ini, mba, ambil aja."
MR Officer kaget, ngga nyangka, bingung, kemudian berkata, "Aduh, ngga usah, Pak."
Si Bapak, "Ngga apa-apa, mba. Ambil aja. Ini saya kasi buat mba."
Masih bingung dan kaget, "Ngga usah, Pak. Lain kali aja."
Si Bapak, "Beneran, mba. Ngga apa-apa. Ambil aja bukunya."
MR Officer merasa ngga enak hati tapi ngga tega nolak juga, "Tapi nanti Bapak rugi dong. Ngga usah aja, Pak."
Si Bapak tetep kekeh, "Ngga apa-apa, mba. Kan tiap hari ini lewat sini. Besok-besok masih bisa ketemu lagi. Ambil aja, mba."
"Buset dah si Bapak! Yakin amat bakalan ketemu lagi besok-besok. Perasaan gue udah berapa tahun lewat sini tapi ngga pernah ketemu nih Bapak," batin MR Officer dalam hati.
Kemudian, "Aduh, Pak. Saya jadi ngga enak nih."
Si Bapak masih dengan wajah yang berseri-seri, "Ambil aja, mba. Ngga apa-apa kok."
MR Officer pun mengambil buku tersebut dari tangan si Bapak dengan perasaan terharu sambil berjanji dalam hati kalau suatu saat pasti akan membayar buku itu.

Rupanya MR Officer akan segera menepati janjinya hari itu juga. Begitu 102 nyampe di daerah Taman Puring, MR Officer pun turun dan dilihatnya ternyata si Bapak pun ikutan turun. MR Officer segera menghampiri si Bapak dan berkata, "Pak, tunggu sebentar ya. Saya mau cari tukeran dulu." Si Bapak menjawab, "Ngga usah, mba. Ngga apa-apa. Jadi ngerepotin."
MR Officer dengan tekad bulat langsung menyeberangi jalan dengan tidak mempedulikan protes si Bapak. Setelah mencoba di warung sate dan warung soto, akhirnya didapatnya juga tukeran uang di sebuah restoran padang. Lalu MR Officer kembali menyeberangi jalan dan mencari si Bapak. Dengan lega dilihatnya si Bapak masih berdiri di tempat yang sama sambil ngobrol dengan tukang parkir.
Kemudian dengan perasaan masih terharu, "Ini, Pak. Buat bukunya tadi."
Si Bapak tersenyum tulus, "Aduh, mba. Ngga usah. Saya ikhlas kok."
MR Officer sambil tersenyum tulus juga, "Diterima aja, Pak. Rejeki jangan ditolak."
Tukang parkir yang dari tadi ada di situ ikutan nimbrung, "Iya. Rejeki mah jangan ditolak."
Akhirnya si Bapak, tampak sama terharunya dengan MR Officer, menerima pembayaran bukunya dan berkata, "Terima kasih ya, mba. Terima kasih banyak."
"Sama-sama, Pak."
Demikian kisah bapak penjual buku yang tulus dan baik hati.
--------------------------
Buat gue pribadi, peristiwa di atas bener-bener menyentuh hati gue karena si Bapak serius tulus mau memberi bukunya dengan gratis. Bukan masalah gratisnya disini yang bikin gue terharu, tapi ketulusannya dan betapa dia kelihatan bahagia saat berjualan buku-buku itu. Padahal kalo dipikir-pikir dengan harga satu buku hanya 3000 rupiah, berapalah untung yang diperoleh si Bapak dari tiap buku. Ya kan? Tapi dia tetap menjualnya dengan riang gembira, dan bahkan menawarkan bukunya secara cuma-cuma kepada seorang asing di dalam bis.
Gue juga merasakan bagaimana efek sebuah senyum yang tulus dan raut wajah ceria mampu menggerakkan orang lain untuk berbuat baik (dalam hal ini membeli buku si Bapak), karena di bis itu ada beberapa orang lain yang juga turut membeli bukunya. Dan jujur aja, alasan utama gue membeli buku itu bukan karena isinya tapi karena sangat terkesan dengan senyum si Bapak.
Memang benar apa yang dikatakan orang bijak. Smile, and the whole world will smile back at you.

No comments:
Post a Comment